BUKU PANDUAN
PESRAMAN HINDU
PANDUAN SARANA-SARANA UPAKARA HINDU
Bahan, Makna, dan
Tata Cara Pembuatannya

PENYUSUN ISI
JRO MANGKU TUTI
Ditulis oleh
@Man Asrat
Sebagai Bahan Pembelajaran dan Pelestarian Tradisi Hindu Bali
OM SANTIH, SANTIH, SANTIH OM
KATA PENGANTAR
Om Swastyastu,
Puji syukur kita panjatkan ke hadapan
Ida Sang Hyang Widhi Wasa karena atas asung kerta wara nugraha-Nya, buku
panduan yang berjudul Panduan Sarana-Sarana Upakara Hindu: Bahan, Makna,
dan Tata Cara Pembuatannya dapat disusun sebagai bahan pembelajaran
bagi generasi muda Hindu.
Sarana upakara merupakan bagian penting dalam pelaksanaan kehidupan
keagamaan umat Hindu, khususnya di Bali. Berbagai bahan alam, seperti janur,
bunga, buah-buahan, beras, dan air, digunakan dalam bentuk persembahan yang
memiliki fungsi serta makna sesuai tradisi dan tujuan upacara.
Pengetahuan mengenai sarana upakara perlu diwariskan kepada generasi
muda agar keterampilan membuat jejahitan dan banten tidak hilang seiring
perkembangan zaman. Pembelajaran ini juga diharapkan mampu menumbuhkan sikap
disiplin, ketelitian, kebersihan, gotong royong, serta rasa hormat terhadap
tradisi leluhur.
Buku ini disusun mulai dari pengenalan bahan dan peralatan dasar, pembuatan
jejahitan sederhana, penyiapan bahan persembahan, hingga pengenalan beberapa
jenis banten yang dikenal dalam tradisi Hindu Bali. Materi dilengkapi dengan
langkah-langkah praktik dan pertanyaan evaluasi untuk mendukung kegiatan
pesraman.
Perlu dipahami bahwa bentuk dan susunan upakara dapat berbeda menurut
desa, kala, patra serta tradisi keluarga dan daerah. Oleh sebab itu, buku ini
merupakan panduan pengenalan dasar yang perlu disesuaikan dengan tuntunan guru
agama, pemangku, sulinggih, atau pengajar yang memahami tradisi setempat.
Semoga buku ini bermanfaat bagi peserta pesraman, pengajar, orang tua,
dan masyarakat dalam menjaga kelestarian pengetahuan serta budaya Hindu Bali.
Om Santih, Santih,
Santih Om.
Penyusun Isi,
JRO MANGKU TUTI
Ditulis oleh, @Man
Asrat
DAFTAR ISI
|
Bagian
|
Halaman
|
|
Sampul Depan
|
1
|
|
Kata Pengantar
|
2
|
|
Daftar Isi
|
3
|
|
BAB I. Pendahuluan
|
4
|
|
BAB II. Pengertian dan Fungsi Sarana Upakara
|
5
|
|
BAB III. Bahan Dasar Sarana Upakara
|
6
|
|
BAB IV. Peralatan dan Keselamatan Kerja
|
7
|
|
BAB V. Cara Membuat Semat dan Kojong
|
8
|
|
BAB VI. Cara Membuat Ceper dan Wadah Janur
|
9
|
|
BAB VII. Cara Membuat Canang Sari
|
10
|
|
BAB VIII. Cara Membuat Sampian Sederhana
|
11
|
|
BAB IX. Penyiapan Bahan Persembahan
|
12
|
|
BAB X. Pengenalan Banten Ajuman atau Soda
|
13
|
|
BAB XI. Pengenalan Banten Daksina
|
14
|
|
BAB XII. Pengenalan Banten Pejati
|
15
|
|
BAB XIII. Etika dan Pelestarian Tradisi
|
16
|
|
BAB XIV. Praktik Pesraman dan Evaluasi
|
17
|
|
BAB XV. Penutup
|
18
|
Catatan: Nomor halaman di atas
merupakan rancangan 18 halaman. Nomor aktual dapat berubah setelah naskah
dipindahkan ke Word, tergantung ukuran huruf, gambar, dan pengaturan paragraf.
BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Agama Hindu mengajarkan umatnya untuk senantiasa mengembangkan
keyakinan, pengabdian, perilaku yang baik, dan keharmonisan dengan lingkungan.
Dalam kehidupan umat Hindu di Bali, nilai-nilai tersebut diwujudkan melalui
berbagai kegiatan keagamaan, termasuk pembuatan dan penggunaan sarana upakara.
Pembuatan sarana upakara merupakan keterampilan yang diwariskan secara
turun-temurun. Prosesnya melibatkan pengetahuan tentang bahan alam, teknik
mengolah janur, keterampilan merangkai bunga, serta pemahaman mengenai fungsi
dan tata cara persembahan.
Pada masa sekarang, generasi muda perlu mendapatkan kesempatan untuk
mempelajari keterampilan tersebut secara terarah. Pesraman dapat menjadi tempat
untuk menggabungkan pendidikan agama, praktik budaya, dan pembentukan karakter.
Melalui pembelajaran ini, peserta tidak hanya diharapkan mampu
menghasilkan jejahitan yang rapi, tetapi juga memahami alasan sarana tersebut
digunakan dan bagaimana menghormati tradisi yang menyertainya.
1.2 Tujuan Penyusunan
Buku panduan ini disusun untuk:
1. Mengenalkan
berbagai sarana upakara Hindu, khususnya yang digunakan dalam tradisi Bali.
2. Memberikan
pengetahuan mengenai bahan dasar dan peralatan pembuatan upakara.
3. Membimbing peserta
dalam praktik membuat jejahitan sederhana dan canang sari.
4. Menjelaskan
pengenalan dasar beberapa jenis banten.
5. Menanamkan sikap
disiplin, teliti, bersih, tulus, dan bertanggung jawab.
6. Mendukung
pelestarian tradisi Hindu Bali melalui pendidikan generasi muda.
1.3 Sasaran Pembaca
Buku ini ditujukan kepada peserta pesraman, Sekaa Teruna, remaja Hindu,
pengajar agama Hindu, orang tua, serta masyarakat yang ingin mempelajari
keterampilan dasar pembuatan sarana upakara.
1.4 Ruang Lingkup
Pembahasan meliputi
bahan dasar, peralatan, keselamatan kerja, teknik jejahitan, canang sari,
penyiapan bahan persembahan, pengenalan banten, etika, serta kegiatan praktik
dan evaluasi.
BAB II. PENGERTIAN DAN FUNGSI SARANA UPAKARA
2.1 Pengertian Sarana Upakara
Sarana upakara adalah bahan, perlengkapan, dan rangkaian persembahan
yang digunakan untuk mendukung pelaksanaan upacara keagamaan Hindu.
Dalam tradisi Hindu Bali, sarana tersebut dapat berupa bahan alam, hasil
pertanian, makanan, bunga, air, daun, serta berbagai bentuk jejahitan yang
disusun berdasarkan fungsi dan ketentuan upacara.
Sarana upakara tidak hanya memiliki bentuk fisik, tetapi juga berkaitan
dengan nilai keagamaan, budaya, simbolis, dan sosial yang diwariskan dalam
masyarakat.
2.2 Pengertian Banten
Banten adalah bentuk persembahan yang disusun dari berbagai bahan dan
unsur sesuai tujuan serta tradisi upacara. Setiap jenis banten memiliki bentuk,
komposisi, fungsi, dan tata cara penyusunan yang dapat berbeda.
Oleh karena itu, pembuatan banten memerlukan pengetahuan yang lebih luas
daripada sekadar merangkai bahan. Pembuatnya perlu memahami jenis banten,
tujuan penggunaan, dan ketentuan tradisi yang berlaku.
2.3 Fungsi Sarana Upakara
Sarana upakara memiliki beberapa fungsi dalam kehidupan keagamaan dan
budaya.
·
Fungsi keagamaan: Sebagai bagian dari pelaksanaan
persembahan dan upacara.
·
Fungsi pendidikan: Mengajarkan
ketelitian, kesabaran, kedisiplinan, dan tanggung jawab.
·
Fungsi budaya: Menjaga keterampilan tradisional dan
pengetahuan lokal.
·
Fungsi sosial: Mempererat hubungan masyarakat
melalui kegiatan gotong royong.
·
Fungsi lingkungan: Mengingatkan umat
untuk menghargai hasil alam dan menggunakan bahan secara bijaksana.
2.4 Sikap dalam Membuat Upakara
Membuat sarana
upakara hendaknya dilakukan dengan bersih, teliti, dan penuh tanggung jawab.
Niat yang tulus dan sikap bhakti merupakan bagian penting dari pembelajaran.
Keindahan dan kerapian tetap perlu diperhatikan, tetapi peserta juga
harus memahami bahwa bentuk persembahan mengikuti ketentuan yang berlaku, bukan
semata-mata keinginan untuk membuatnya terlihat menarik.
BAB III. BAHAN DASAR SARANA UPAKARA
3.1 Janur atau Busung
Janur atau busung
merupakan daun kelapa muda yang banyak digunakan untuk membuat wadah dan hiasan
upakara.
Kegunaan:
·
Membuat ceper dan wadah sejenis.
·
Membuat kojong.
·
Membuat sampian dan berbagai bentuk jejahitan.
·
Menjadi bahan pelengkap pada sarana tertentu.
Cara
menyiapkan: Pilih janur yang masih lentur, tidak berjamur, dan tidak robek.
Bersihkan dari kotoran, lalu potong sesuai ukuran yang diperlukan.
3.2 Ron
Ron adalah daun
kelapa yang lebih tua daripada janur. Penggunaannya bergantung pada jenis
jejahitan dan tradisi setempat.
Cara
menyiapkan: Pilih daun yang bersih dan layak, pisahkan bagian yang rusak, lalu
potong sesuai pola.
3.3 Bunga
Bunga merupakan
salah satu unsur yang lazim digunakan dalam persembahan dan persembahyangan.
Contohnya meliputi
bunga kamboja, melati, cempaka, dan bunga lain yang sesuai dengan kebiasaan
setempat.
Cara
menyiapkan:
1.
Pilih bunga yang segar.
2.
Pisahkan bagian yang layu atau rusak.
3.
Bersihkan kotoran yang menempel.
4.
Kelompokkan sesuai kebutuhan.
5.
Simpan di wadah bersih hingga digunakan.
3.4 Beras
Beras digunakan
dalam berbagai keperluan ritual tertentu. Pemakaiannya perlu disesuaikan dengan
tujuan upacara.
Cara
menyiapkan: Pilih beras yang bersih, periksa dari benda asing, lalu simpan dalam
wadah kering dan bersih.
3.5 Buah-Buahan
Buah merupakan hasil alam yang dapat menjadi bagian dari persembahan.
Contohnya adalah pisang, jeruk, kelapa, dan buah lain yang layak sesuai
keperluan.
Cara menyiapkan: Pilih buah yang
segar, pisahkan buah yang busuk atau rusak, bersihkan bila diperlukan, kemudian
tata dengan rapi.
3.6 Daun pandan / Bahan Pelengkap
Bahan lain yang dapat digunakan sesuai jenis upakara antara lain pandan,
sirih, pinang, kelapa, air, jajanan, dan hasil pertanian.
Catatan: Tidak semua bahan
digunakan dalam setiap upakara. Pemilihan bahan harus mengikuti jenis
persembahan dan petunjuk tradisi setempat.
BAB IV. PERALATAN DAN KESELAMATAN KERJA
4.1 Peralatan Dasar
Sebelum memulai
praktik, peserta perlu mengenal alat yang digunakan.
|
Peralatan
|
Kegunaan
|
|
Tiyuk atau pisau
|
Memotong dan merapikan bahan
|
|
Gunting
|
Memotong daun dan janur
|
|
Semat
|
Mengunci sambungan jejahitan
|
|
Talenan
|
Alas untuk memotong bahan
|
|
Nampan
|
Menampung bahan dan hasil kerja
|
|
Wadah kecil
|
Menyimpan bunga dan bahan pelengkap
|
|
Jarum dan benang
|
Membantu rangkaian tertentu bila diperlukan
|
|
Lap bersih
|
Membersihkan meja dan peralatan
|
4.2 Menyiapkan Tempat Kerja
Tempat kerja
sebaiknya memiliki pencahayaan yang cukup, permukaan yang stabil, serta ruang
untuk menyusun bahan dan peralatan.
Bahan yang telah
dibersihkan perlu dipisahkan dari bahan yang masih kotor. Peralatan tajam
diletakkan pada tempat khusus agar tidak membahayakan peserta.
4.3 Keselamatan Kerja
Dalam praktik
pembuatan sarana upakara, keselamatan harus menjadi perhatian utama.
1.
Gunakan pisau dan gunting dengan hati-hati.
2.
Potong bahan di atas talenan atau alas yang stabil.
3.
Arahkan mata pisau menjauhi tubuh.
4.
Jangan bermain atau bercanda saat menggunakan alat tajam.
5.
Simpan alat setelah selesai digunakan.
6.
Bersihkan sisa bahan agar tempat kerja tidak licin atau berantakan.
7.
Anak-anak harus mendapatkan pendampingan orang dewasa.
4.4 Prinsip Kebersihan
Kebersihan mencakup
tangan, peralatan, bahan, serta tempat kerja. Bahan persembahan perlu dijaga
agar tidak tercampur dengan kotoran atau bahan yang tidak layak.
Peserta juga harus
menghindari pemborosan bahan. Sisa janur dan daun yang masih layak dapat
dimanfaatkan untuk latihan berikutnya, sedangkan bahan organik yang sudah tidak
digunakan dapat dikelola secara bijaksana.
CARA MEMBUAT SEMAT DAN KOJONG
5.1 Membuat Semat
Semat adalah
potongan kecil dari bambu yang digunakan untuk menyatukan atau mengunci bagian
jejahitan.
Bahan
·
Bambu yang bersih dan tidak lapuk.
·
Wadah penyimpanan.
Peralatan
·
Pisau atau alat pemotong yang sesuai.
·
Talenan.
Langkah Pembuatan
1.
Pilih bambu yang cukup kuat, bersih, dan tidak berjamur.
2.
Potong bambu menjadi bagian yang mudah dikerjakan.
3.
Belah menjadi bilah-bilah tipis sesuai kebutuhan.
4.
Bentuk salah satu ujungnya agar mudah digunakan untuk mengunci
sambungan.
5.
Rapikan bagian yang kasar atau berpotensi melukai tangan.
6.
Periksa kekuatan semat agar tidak mudah patah.
7.
Simpan dalam wadah bersih dan kering.
Fungsi: Semat membantu
mempertahankan bentuk jejahitan sehingga tidak mudah terlepas.
Keselamatan: Pembuatan semat
dengan pisau sebaiknya dilakukan oleh orang dewasa atau peserta yang sudah
mendapatkan pendampingan.
5.2 Membuat Kojong
Kojong adalah wadah
kecil yang dibuat dari daun atau janur dan digunakan sesuai kebutuhan dalam
rangkaian upakara.
Bahan
·
Janur yang lentur.
·
Semat kecil.
Langkah Pembuatan
1.
Pilih janur yang cukup lebar dan tidak robek.
2.
Bersihkan daun dari kotoran.
3.
Potong sesuai ukuran yang dibutuhkan.
4.
Lipat atau gulung daun hingga membentuk wadah kecil.
5.
Tumpangkan bagian ujung daun pada sambungan.
6.
Kunci dengan semat.
7.
Periksa bentuk dasar dan sambungan agar tidak mudah terbuka.
8.
Rapikan bagian yang berlebihan.
Fungsi: Sebagai wadah untuk
bahan tertentu dalam sarana upakara.
Catatan: Bentuk kojong
dapat berbeda menurut kegunaannya. Untuk pembuatan yang mengikuti pakem
tertentu, peserta perlu melihat contoh langsung dari pengajar jejahitan
setempat.
HALAMAN 9 — BAB VI. CARA MEMBUAT CEPER DAN WADAH
JANUR
6.1 Pengertian Ceper
Ceper merupakan
bentuk jejahitan dari janur yang digunakan sebagai alas atau wadah pada sarana
upakara tertentu.
Ceper memerlukan
ketelitian dalam menyusun daun, membentuk sudut, dan mengunci sambungan agar
wadah tidak mudah terlepas.
6.2 Bahan dan Peralatan
Bahan:
·
Janur atau busung yang lentur.
·
Semat.
Peralatan:
·
Gunting.
·
Pisau.
·
Talenan.
6.3 Langkah Pembuatan Ceper Dasar
1.
Siapkan janur yang bersih dan cukup lebar.
2.
Potong daun sesuai pola ceper yang akan dibuat.
3.
Susun bagian daun untuk membentuk alas.
4.
Lipat bagian tepi sesuai pola.
5.
Bentuk keempat sisi dan sudut dengan rapi.
6.
Satukan sambungan menggunakan semat.
7.
Periksa agar alas tidak mudah terlepas.
8.
Rapikan ujung janur yang berlebihan.
9.
Pastikan wadah berada dalam posisi datar dan cukup kuat.
6.4 Cara Membuat Wadah Janur Sederhana
Selain ceper, janur
dapat dibentuk menjadi berbagai wadah sesuai kebutuhan.
1.
Tentukan ukuran dan bentuk wadah.
2.
Siapkan daun yang sesuai.
3.
Lipat atau rangkai daun mengikuti pola.
4.
Kunci sambungan dengan semat.
5.
Periksa bagian dasar dan tepinya.
6.
Rapikan bentuk akhir.
6.5 Hal yang Perlu Diperhatikan
·
Gunakan janur yang lentur agar tidak mudah patah.
·
Jangan menarik daun terlalu kuat.
·
Pastikan semat tidak menonjol secara berlebihan.
·
Sesuaikan ukuran wadah dengan fungsi penggunaannya.
·
Gunakan contoh dari pengajar untuk mempelajari bentuk yang sesuai dengan
tradisi setempat.
Latihan: Buat satu ceper
sederhana, kemudian minta pengajar memeriksa kerapian, kekuatan sambungan, dan
kesesuaian bentuknya.
BAB VII. CARA MEMBUAT CANANG SARI
7.1 Pengertian Canang Sari
Canang sari
merupakan salah satu bentuk sarana persembahan yang dikenal luas dalam tradisi
Hindu Bali. Canang sari disusun dari wadah jejahitan, bunga, serta unsur
pelengkap sesuai kebiasaan dan ketentuan setempat.
Pembuatan canang
sari menjadi kegiatan yang sesuai untuk pembelajaran pesraman karena
menggabungkan keterampilan tangan, pengenalan bahan, dan pemahaman nilai
bhakti.
7.2 Bahan yang Diperlukan
·
Ceper atau wadah yang sesuai.
·
Janur sebagai bahan jejahitan.
·
Porosan atau unsur pelengkap menurut tradisi setempat.
·
Bunga segar.
·
Pandan atau bahan tambahan yang digunakan di daerah masing-masing.
Komposisi canang
sari tidak selalu sama di setiap tempat. Oleh karena itu, bahan perlu
disesuaikan dengan contoh yang diajarkan oleh pengajar.
7.3 Langkah Pembuatan
Langkah
1: Menyiapkan wadah
Siapkan ceper atau
wadah yang bersih dan cukup kuat. Pastikan bentuknya rapi dan tidak mudah
terlepas.
Langkah
2: Menyiapkan porosan
Siapkan porosan
sesuai bahan dan tata cara yang berlaku dalam tradisi setempat. Jangan
mengganti komposisinya secara sembarangan apabila sedang mempelajari bentuk
tertentu.
Langkah
3: Menata unsur pelengkap
Letakkan unsur
pelengkap sesuai susunan yang diajarkan. Pastikan semuanya tertata dengan baik.
Langkah
4: Menyusun bunga
Pilih bunga yang
segar dan layak dipersembahkan. Susun dengan rapi berdasarkan tata cara yang
digunakan di daerah masing-masing.
Langkah
5: Merapikan canang
Periksa seluruh
bagian, rapikan ujung janur, dan pastikan bunga tidak mudah jatuh.
Langkah
6: Pemeriksaan akhir
Letakkan canang
pada tempat yang bersih. Pastikan tidak ada bahan yang rusak atau kotor.
7.4 Nilai Pembelajaran
Pembuatan canang
sari mengajarkan:
·
Ketelitian dalam menyusun bahan.
·
Kesabaran dalam bekerja.
·
Kebersihan dan kerapian.
·
Penghargaan terhadap hasil alam.
·
Ketulusan dalam menjalankan kewajiban keagamaan.
Catatan: Makna simbolis
setiap unsur dapat dijelaskan menurut ajaran dan tradisi setempat. Peserta
hendaknya tidak menganggap bahwa semua penjelasan simbolis berlaku seragam di
seluruh Bali.
BAB VIII. CARA MEMBUAT SAMPIAN SEDERHANA
8.1 Pengertian Sampian
Sampian merupakan
bentuk rangkaian atau hiasan dari daun yang menjadi bagian dari berbagai sarana
upakara. Bentuknya beragam dan dapat memiliki fungsi yang berbeda.
Pembuatan sampian
membutuhkan latihan karena kerapian lipatan, kesesuaian pola, dan kekuatan
sambungan sangat memengaruhi hasil akhir.
8.2 Bahan dan Peralatan
Bahan:
·
Janur atau daun kelapa yang sesuai.
·
Semat.
Peralatan:
·
Gunting.
·
Pisau.
·
Talenan.
8.3 Langkah Pembuatan Dasar
1.
Pilih janur yang bersih dan tidak mudah patah.
2.
Siapkan pola sampian yang akan dipelajari.
3.
Potong daun sesuai ukuran pola.
4.
Lipat dan rangkai daun mengikuti pola tersebut.
5.
Satukan bagian-bagiannya dengan semat.
6.
Bentuk ujung atau hiasan sesuai contoh.
7.
Periksa setiap sambungan.
8.
Rapikan bagian yang tidak rata.
9.
Simpan hasil kerja pada tempat yang bersih.
8.4 Pemeriksaan Hasil
Sampian yang baik
untuk latihan dasar memiliki bentuk yang rapi, sambungan yang kuat, dan lipatan
yang tidak mudah terlepas.
Kesesuaian bentuk
juga harus diperhatikan. Sampian untuk satu jenis sarana tidak otomatis dapat
digunakan untuk jenis lainnya.
8.5 Latihan Peserta
Peserta dapat
dibagi menjadi kelompok kecil. Setiap kelompok membuat satu bentuk sampian
berdasarkan contoh pengajar, kemudian menjelaskan bahan yang digunakan, langkah
pembuatan, dan fungsi sampian tersebut.
Penilaian dapat
mencakup kerapian, ketelitian, kerja sama, kebersihan, serta kemampuan
menjelaskan hasil kerja.
BAB IX. PENYIAPAN BAHAN PERSEMBAHAN
9.1 Menyiapkan Bunga
Bahan: Bunga segar dan
wadah bersih.
Langkah:
1.
Pilih bunga yang masih segar.
2.
Pisahkan bunga yang layu atau rusak.
3.
Bersihkan kotoran yang menempel.
4.
Kelompokkan sesuai jenis atau kebutuhan.
5.
Simpan dalam wadah bersih sampai digunakan.
Bunga digunakan
dalam berbagai bentuk persembahan dan persembahyangan. Pemilihan serta
penggunaannya mengikuti tata cara setempat.
9.2 Menyiapkan Beras
Bahan: Beras bersih dan
wadah kering.
Langkah:
1.
Periksa beras dari kotoran atau benda asing.
2.
Pastikan beras layak digunakan.
3.
Simpan dalam wadah bersih dan kering.
4.
Gunakan sesuai keperluan upacara.
Beras berkaitan dengan
pangan dan hasil pertanian. Dalam konteks persembahan, penggunaannya harus
mengikuti ketentuan ritual yang berlaku.
9.3 Menyiapkan Buah-Buahan
Bahan: Buah yang sesuai
dengan kebutuhan persembahan.
Langkah:
1.
Pilih buah yang segar dan tidak busuk.
2.
Pisahkan buah yang rusak.
3.
Bersihkan buah jika diperlukan.
4.
Keringkan bagian luarnya apabila telah dicuci.
5.
Tata buah dengan rapi pada wadah yang sesuai.
Buah dapat menjadi
bagian dari persembahan sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil alam.
9.4 Menyiapkan Air Bersih
Bahan: Air bersih dan
wadah yang sesuai.
Langkah:
1.
Bersihkan wadah.
2.
Gunakan air yang layak dan bersih.
3.
Tuangkan air tanpa mencemarinya.
4.
Tempatkan sesuai kebutuhan ritual.
Air biasa tidak otomatis disebut tirtha. Tirtha yang
digunakan dalam upacara tertentu memiliki konteks dan tata cara tersendiri.
9.5 Prinsip Umum
Semua bahan
hendaknya dipersiapkan dengan bersih, tidak boros, dan sesuai tujuan
penggunaannya. Apabila bahan tertentu memiliki ketentuan khusus, ikuti arahan
guru agama atau pemangku setempat.
BAB X. PENGENALAN BANTEN AJUMAN ATAU SODA
10.1 Pengertian
Banten ajuman atau
soda dikenal dalam tradisi Hindu Bali sebagai salah satu bentuk persembahan
yang dapat melibatkan nasi, lauk atau pelengkap, dan unsur lainnya sesuai
tradisi serta tujuan upacara.
Susunan dan
penggunaannya dapat berbeda menurut daerah dan konteks ritual. Oleh sebab itu,
pembelajaran perlu dimulai dengan mengenali contoh yang digunakan di lingkungan
setempat.
10.2 Bahan yang Dapat Dikenalkan
Bahan yang dapat
dijumpai dalam bentuk persembahan ini antara lain:
·
Nasi.
·
Lauk atau pelengkap sesuai tradisi.
·
Wadah persembahan.
·
Unsur pelengkap lain sesuai ketentuan setempat.
Daftar tersebut
bukan resep universal. Bahan yang sebenarnya digunakan perlu mengikuti bentuk
ajuman atau soda yang sedang dipelajari.
10.3 Tahapan Pembelajaran
Tahap
1: Mengenali bentuk
Peserta mengamati
contoh banten yang disiapkan pengajar dan mengenali bagian-bagiannya.
Tahap
2: Mengenali bahan
Pengajar
menjelaskan nama bahan, fungsi, dan alasan bahan tersebut digunakan.
Tahap
3: Menyiapkan wadah
Peserta mempelajari
cara menyiapkan wadah yang bersih dan sesuai.
Tahap
4: Menata persembahan
Bahan disusun
mengikuti contoh yang benar, dengan memperhatikan urutan dan tata cara
setempat.
Tahap
5: Memeriksa hasil
Periksa kebersihan,
kerapian, dan kesesuaian susunan.
10.4 Hal yang Perlu Dipahami
Pembuatan ajuman
atau soda tidak cukup dipelajari dari gambar saja. Peserta perlu memahami
tujuan persembahan dan ketentuan penggunaannya.
Dalam kegiatan
pesraman, pengajar dapat memperagakan satu bentuk yang lazim digunakan di desa
setempat agar peserta memperoleh pengalaman praktik yang tepat.
BAB XI.
PENGENALAN BANTEN DAKSINA
11.1 Pengertian
Banten daksina
merupakan salah satu bentuk persembahan yang memiliki susunan bahan dan makna
simbolis tertentu dalam tradisi Hindu Bali.
Daksina tidak
sekadar berupa kumpulan bahan yang diletakkan dalam wadah. Komponen, susunan,
dan penggunaannya berkaitan dengan ketentuan upacara yang menjadi konteksnya.
11.2 Pengenalan Bahan
Dalam bentuk-bentuk
daksina yang dikenal di Bali, peserta dapat diperkenalkan pada komponen
seperti:
·
Wadah atau jejahitan yang digunakan.
·
Kelapa.
·
Telur.
·
Beras dan bahan pangan tertentu.
·
Unsur daun atau pelengkap lain.
·
Bahan simbolis lain sesuai tradisi setempat.
Daftar ini
merupakan pengenalan umum, bukan daftar lengkap untuk setiap jenis daksina.
Komponen dan susunannya dapat berbeda menurut ketentuan yang digunakan.
11.3 Cara Mempelajari Penyusunan
Langkah
1: Mengamati contoh
Pengajar
menunjukkan daksina yang sesuai dengan tradisi setempat.
Langkah
2: Mengenali setiap komponen
Peserta mempelajari
nama bahan, bentuk, dan fungsi masing-masing unsur.
Langkah
3: Memahami urutan
Pengajar
menjelaskan susunan bahan dan alasan penempatannya sesuai ketentuan yang
berlaku.
Langkah
4: Praktik terbimbing
Peserta mencoba
menyusun bahan dengan mengikuti contoh secara langsung.
Langkah
5: Pemeriksaan
Pengajar memeriksa
hasil dan menjelaskan bagian yang perlu diperbaiki.
11.4 Sikap dalam Pembelajaran
Peserta perlu
menghargai ketentuan ritual dan tidak mengubah susunan hanya demi keindahan.
Jika terdapat perbedaan bentuk daksina antara satu daerah dan daerah lain,
perbedaan tersebut perlu dipelajari dengan sikap terbuka dan hormat.
BAB XII. PENGENALAN BANTEN PEJATI
12.1 Pengertian
Banten pejati
merupakan rangkaian persembahan yang dikenal dalam tradisi Hindu Bali dan
digunakan dalam konteks upacara tertentu.
Pejati memiliki
susunan yang lebih kompleks daripada latihan jejahitan dasar. Komponen dan
penggunaannya harus dipahami berdasarkan jenis upacara serta tradisi setempat.
12.2 Tujuan Pembelajaran
Pengenalan banten
pejati bertujuan agar peserta:
·
Mengenali bentuk persembahan yang lebih lengkap.
·
Mengetahui bahwa satu rangkaian dapat terdiri atas beberapa unsur.
·
Memahami pentingnya urutan dan tata cara penyusunan.
·
Mengetahui kapan perlu meminta bimbingan pemangku atau guru agama.
12.3 Tahapan Pengenalan
1.
Mengamati contoh pejati yang disiapkan
oleh pengajar.
2.
Mengenali bagian-bagiannya berdasarkan nama
dan fungsi yang dijelaskan.
3.
Mempelajari hubungan antarkomponen dalam rangkaian
persembahan.
4.
Mencatat urutan penyusunan sesuai petunjuk
setempat.
5.
Mengikuti praktik terbimbing jika tersedia.
6.
Mengevaluasi hasil bersama pengajar.
12.4 Mengapa Perlu Bimbingan?
Banten pejati tidak
tepat diperlakukan sebagai satu resep sederhana yang berlaku seragam untuk
semua upacara. Kesalahan dalam memahami tujuan dan susunan dapat menyebabkan
penggunaan yang tidak sesuai dengan kebutuhan ritual.
Karena itu, buku
ini membatasi pembahasan pada pengenalan dasar. Daftar komponen dan tata cara
lengkap perlu disusun berdasarkan jenis upacara dan tuntunan yang digunakan
oleh keluarga, desa adat, atau pemangku setempat.
12.5 Pesan untuk Peserta
Mulailah dari
keterampilan dasar seperti mengenal bahan, membuat jejahitan, dan merangkai
canang sari. Setelah itu, pelajari bentuk banten yang lebih kompleks secara
bertahap dengan bimbingan yang tepat.
BAB XIII.
ETIKA DAN PELESTARIAN TRADISI
13.1 Menjaga Kebersihan
Kebersihan
merupakan bagian penting dalam persiapan sarana upakara. Peserta hendaknya
membersihkan tangan, bahan, peralatan, dan tempat kerja sebelum memulai
kegiatan.
13.2 Menggunakan Bahan dengan Bijaksana
Bahan alam perlu
digunakan secara bertanggung jawab. Hindari memotong janur atau mengambil bunga
secara berlebihan. Gunakan bahan secukupnya dan manfaatkan sisa bahan yang
masih layak untuk latihan.
13.3 Menghormati Tradisi
Setiap desa,
keluarga, dan lingkungan dapat memiliki kebiasaan yang berbeda. Perbedaan
tersebut perlu dipelajari dengan hormat, bukan dijadikan alasan untuk
merendahkan tradisi lain.
Jika peserta belum
mengetahui suatu tata cara, sebaiknya bertanya kepada pengajar, pemangku, atau
orang yang memahami tradisi setempat.
13.4 Melatih Kesabaran dan Ketelitian
Pembuatan jejahitan
membutuhkan latihan. Hasil yang belum rapi merupakan bagian dari proses belajar.
Peserta perlu berlatih tanpa tergesa-gesa dan bersedia memperbaiki hasil
kerjanya.
13.5 Mengembangkan Gotong Royong
Pembuatan sarana
upakara sering dilakukan bersama. Pembagian tugas, saling membantu, dan
menghargai kemampuan orang lain dapat menumbuhkan kebersamaan.
13.6 Memanfaatkan Teknologi
Generasi muda dapat
memanfaatkan foto, video pembelajaran, dan dokumentasi digital untuk membantu
mengingat langkah pembuatan.
Namun, materi
digital perlu dibandingkan dengan sumber yang tepercaya. Bentuk dan tata cara
yang ditemukan di internet belum tentu sesuai dengan tradisi yang digunakan di
daerah peserta.
13.7 Mewariskan Pengetahuan
Pengetahuan tentang
sarana upakara dapat diwariskan melalui praktik bersama orang tua, pengajar, dan
tokoh agama. Dokumentasi nama bahan, fungsi, serta langkah pembuatan juga dapat
membantu menjaga pengetahuan lokal.
BAB XIV. PRAKTIK PESRAMAN DAN EVALUASI
14.1 Contoh Rencana Kegiatan
Kegiatan praktik
dapat dilaksanakan selama 120 menit.
|
Waktu
|
Kegiatan
|
|
15 menit
|
Pembukaan dan pengantar materi
|
|
20 menit
|
Pengenalan bahan dan peralatan
|
|
25 menit
|
Praktik semat, kojong, atau ceper
|
|
35 menit
|
Praktik membuat canang sari
|
|
15 menit
|
Presentasi dan pemeriksaan hasil
|
|
10 menit
|
Refleksi dan penutup
|
Waktu dapat
disesuaikan dengan usia peserta, jumlah peserta, dan tingkat kesulitan materi.
14.2 Pertanyaan Evaluasi
Jawablah pertanyaan
berikut berdasarkan materi yang telah dipelajari.
1.
Apa yang dimaksud dengan sarana upakara?
2.
Apa perbedaan janur dan ron?
3.
Apa fungsi semat dalam pembuatan jejahitan?
4.
Sebutkan tiga peralatan yang digunakan dalam praktik.
5.
Bagaimana tahapan dasar membuat kojong?
6.
Apa yang perlu diperhatikan ketika membuat ceper?
7.
Sebutkan bahan dasar yang lazim digunakan untuk membuat canang sari.
8.
Mengapa bunga harus dipilih dalam keadaan layak?
9.
Apa yang perlu dipahami sebelum mempelajari pembuatan banten daksina?
10. Mengapa susunan
banten pejati perlu mengikuti tuntunan setempat?
11. Sebutkan tiga sikap
yang harus diterapkan ketika membuat sarana upakara.
12. Bagaimana cara
generasi muda membantu melestarikan keterampilan tradisional?
14.3 Tugas Praktik
Peserta diminta
memilih salah satu tugas berikut:
·
Membuat satu bentuk jejahitan dasar.
·
Menyiapkan bunga dan bahan persembahan.
·
Membuat satu canang sari dengan bimbingan pengajar.
·
Membuat dokumentasi proses pembuatan dan menuliskan nama bahan serta
fungsinya.
14.4 Rubrik Penilaian
|
Aspek
|
Bobot
|
|
Kebersihan dan keselamatan kerja
|
20%
|
|
Ketelitian dan kerapian
|
25%
|
|
Kesesuaian dengan contoh
|
25%
|
|
Pemahaman bahan dan fungsi
|
20%
|
|
Kerja sama dan tanggung jawab
|
10%
|
|
Total
|
100%
|
Penilaian hendaknya
digunakan untuk membantu peserta berkembang, bukan semata-mata membandingkan
kemampuan satu peserta dengan peserta lainnya.
14.5 Refleksi Peserta
Setelah praktik,
peserta dapat menuliskan:
·
Keterampilan yang sudah dikuasai.
·
Kesulitan yang ditemui.
·
Cara memperbaiki hasil kerja.
·
Nilai agama atau karakter yang dipelajari.
·
Pengetahuan yang ingin dipelajari berikutnya.
BAB XV. PENUTUP
15.1 Kesimpulan
Sarana upakara
merupakan bagian dari kehidupan keagamaan dan kebudayaan umat Hindu, khususnya
dalam tradisi Hindu Bali. Pembuatan sarana tersebut melibatkan pengetahuan
tentang bahan alam, keterampilan jejahitan, penataan bunga, serta pemahaman
terhadap fungsi dan ketentuan persembahan.
Pembelajaran dapat
dimulai dari bahan dan keterampilan sederhana, seperti mengenal janur, membuat
semat, membuat kojong, membuat ceper, dan merangkai canang sari. Setelah
keterampilan dasar dikuasai, peserta dapat melanjutkan pembelajaran ke bentuk
banten yang lebih kompleks dengan bimbingan yang sesuai.
Penting untuk
diingat bahwa bentuk dan susunan upakara tidak selalu sama di setiap daerah.
Oleh karena itu, pengetahuan dari buku perlu dilengkapi dengan praktik langsung
serta petunjuk guru agama, pemangku, sulinggih, atau pengajar yang memahami
tradisi setempat.
15.2 Harapan
Melalui buku
panduan ini, generasi muda Hindu diharapkan semakin mengenal warisan budaya dan
mampu meneruskan keterampilan pembuatan sarana upakara dengan penuh tanggung
jawab.
Pengetahuan
tersebut hendaknya berjalan bersama pembentukan karakter, seperti ketulusan,
kedisiplinan, kebersihan, kesabaran, gotong royong, dan penghormatan terhadap
orang tua serta guru.
Pelestarian tradisi
tidak hanya berarti mempertahankan bentuk fisik, tetapi juga memahami
nilai-nilai yang diwariskan dan menerapkannya secara bijaksana dalam kehidupan
sehari-hari.
Semoga buku ini
dapat menjadi bahan pembelajaran yang bermanfaat bagi kegiatan pesraman,
keluarga, dan masyarakat.
Tambahan : khusus
untuk sisya laki-laki
Agar peserta belajar
dari yang paling mudah hingga lebih rumit, urutannya bisa dibuat seperti ini:
1.
Membuat katik sate.
2.
Membuat semat bambu.
3.
Membuat kelakat.
4.
Membuat sengkui.
5.
Membuat rangka sederhana dari bambu.
6.
Membuat sanggah cucuk.
7.
Membuat rangka penjor dan memasang hiasannya.
8.
Membuat gapura atau dekorasi upacara.
9.
Menata prasarana upacara secara berkelompok.
Om Santih, Santih,
Santih Om.
PENYUSUN ISI
JRO MANGKU TUTI
Ditulis oleh: @Man Asrat